Evangeline

Well, sebenarnya ini bisa dikatakan sebagai pengakuan. Pengakuanku.. kalau kau ingin tahu tentang kelengkapan kisahnya. Ya.. pengakuanku tentang seorang gadis yang sangat berarti buatku. Bisa juga dibilang sebagai cinta pertamaku. Tidak.. dia memang benar-benar cinta pertamaku, dan aku tidak bisa.. tidak akan bisa.. melupakannya.

Namanya Evangeline.. dan hanya itu yang aku tahu darinya. Pastinya kau akan merasa aneh dan akan menertawakanku karena ini, aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Aku tahu apa yang akan kau maupun orang lain katakan. “Bagaimana kamu bisa mencintai seorang gadis jika yang kamu tahu dari dia hanya namanya?” Tapi itulah kenyataannya. Kenyataan yang menyakitkan..

Well, aku tidak tahu bagaimana rupanya, atau bahkan suaranya. Hanya ada nama.. ya.. nama.. dan sebuah kenangan tidak jelas tantang senyumnya. Senyum termanis sekaligus terjahat yang pernah aku tahu. Aku tahu, karena aku tidak benar-benar bisa mengingatnya. Senyuman itu bagaikan gambar kabur yang ada di kepalamu saat kau ingat kau pernah bermimpi akan suatu hal tapi tidak bisa benar-benar megingat seluruh isi mimpi itu. Saat aku sendirian dan tidak bisa mencegah diriku untuk pergi jauh dan menghayalkan berbagai hal, terkadang aku akan teringat akan senyumannya.

Aku akan sedikit bergidik saat mengingatnya. Aku yakin kaupun akan melakukan hal yang sama jika kau ada dalam posisiku. Dalam bayanganku, dia memiliki keindahan yang.. entahlah.. bagaikan  kecantikan yang membuatku tidak bisa memalingkan mukaku, tapi di waktu yang sama, membuatku sangat takut, sampai mataku tersiksa antara ingin menutup mata dan dorongan rasa takut menuntutku untuk terus menatapnya dengan asumsi jika aku memalingkan wajahku barang sedetik, kecantikan itu akan hilang selamanya. Bisakah kau membayangkannya? Dia membuatku gila. Dia memberikan khidupan, mimpi, dan harapan padaku di saat yang sama dengan kematian, kehancuran dan kegagalan yang membayangi. Semuanya, pada satu senyuman, dan pada saat yang sama.

Mungkin sekarang kamu akan bertanya-tanya, bagaimana aku bisa mengetahui namanya. Kurasa, aku tahu begitu saja. Pernah dalam beberapa mimpi saat dia merasuk dalam pengelihatanku, aku memanggilnya dengan nama itu, dan dia akan menoleh, lalu tersenyum padaku, senyuman yang seperti permen jawbreaker, sangat manis dan lembut di mulut, tapi begitu keras, sampai akan membuatmu mati tersedak saat kau berusaha menghabiskannya terburu-buru. Entahlah.. mungkin perumpamaan ini tidak tepat. Dia seperti malaikat dengan senyumannya itu, tapi di saat yang sama dia terlihat seperti iblis.

Apapun dia, aku tetap mencintai dia. Bisa dibilang aku terobsesi padanya. Aku bersumpah aku akan menemukannya lagi suatu saat nanti, dan saat itu, aku akan melakukan apa yang tidak sempat aku lakukan dulu, saat dia pertama kali muncul sebagai gambaran nyata yang tak lengkap di otakku. Aku akan mengatakan padanya bagaimana perasaanku padanya. Setidaknya dengan mengungkapkan perasaanku, aku tidak lagi dibayangi senyumannya. Setidaknya aku bisa terlepas dari bayang-bayang senyumannya.

Itulah sebabnya mengapa aku memulai perjalanan ini. Untuk mencari Evangeline. Aku menatap rumah dimana aku hidup selama ini. Setelah kematian kedua orang tuaku akibat kecelakaan lalu lintas dan hilangnya kakak perempuanku yang sangat kusayang aku tidak lagi punya sanak saudara ataupun kenalan yang dapat menjadi alasanku untuk terus berada di kota ini ataupun untuk hidup seperti orang lain.

Lagipula kalau dipikir-pikir, sudah terlalu banyak kenangan di rumah ini. Baik kenangan indah ataupun kenangan yang sebaiknya tidak aku ingat lagi. Jadi, aku rasa lebih baik aku pergi untuk mencari pengalaman lain di negeri lain, yang mungkin akan menjadi petualangan bagiku dan bagi orang-orang yang membaca jurnalku.

Selamat tinggal diriku yang lama, dan selamat datang petualangan. Wah, aku sudah tidak sabar. Dengan langkah ringan aku menyusuri jalanan yang sudah kukenal menuju perbatasan, sementara tanganku menyusup ke dalam jaket tebal dan panjang hitamku, berusaha bersembunyi lebih jauh dari sengatan udara dingin yang semakin menusuk, dan kamera digitalku mulai bergoyang sesuai irama langkahku. Dengan santai aku mengalungkan tasku dan mengangkat bag pack besarku, lalu mengencangkan tas pinggangku. Lengkap sudah persiapanku. Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan. Dengan ini aku tidak perlu takut tentang bagaimana bertahan hidup di negeri yang tidak kukenal. Lagipula, bukan masalah besar bagiku untuk hidup. Aku yakin itu.

Sudahlah.. sudah cukup tentang perpisahan. Sekali lagi aku menoleh ke arah rumahku yang nyaman, lalu mengecupkan ciuman jauh. Inilah jalan yang kupilih. Jadi, sekali lagi kuserukan, selamat tinggal pada yang lama dan selamat datang pada yang akan datang. Ya.. selamat datang, apapun itu.